(Foto: thinkstock)
Tugas dari medical representative adalah memperkenalkan dan memberikan informasi terbaru mengenai obat-obatan kepada dokter dan juga apoteker. Dalam tugasnya ia memberikan informasi mengenai penggunaan klinis, dosis dan juga farmakologi obat-obatan tersebut.
"Tidak selamanya medical representative itu negatif, karena kalau informasi yang diberikan berbasis riset (evidence base) maka hasilnya adalah bagus," ujar dr Prijo Sidipratomo, MD, selaku Ketua Pengurus Pusat IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
dr Prijo menuturkan bisa saja metode yang digunakan adalah dengan mengadakan seminar di suatu tempat dan mengumpulkan beberapa medical representative, lalu dalam seminar tersebut dikaji hasil penelitian dari perusahaan farmasi tersebut. Tapi metode ini tidak berjalan dengan baik, dan pola yang masih disukai adalah dengan cara menunggu dokter di tempat ia berpraktik.
"Medical representatvie menjadi sumber yang relevan karena tugas utamanya adalah menyampaikan informasi seputar obat-obatan, informasi ini berdasar riset yang dilakukan oleh perusahaan farmasi tersebut," ujar Parulian Simanjuntak, selaku Ketua Internasional Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG).
Parulian menambahkan majunya teknik pengobatan dipengaruhi oleh hasil riset dari industri farmasi, untuk itu penting menjalin komunikasi yang baik antara industri farmasi dan juga dunia kedokteran.
"Selain itu perusahaan farmasi juga bisa memanfaatkan program-program edukasi berbasis online dan membantu memberikan layanan kesehatan yang mudah diperoleh, terjangkau dan berkualitas bagi pasien," ungkap Parulian.
Meski internet bisa memberikan informasi mengenai obat-obatan, tapi tetap saja ada keterbatasan informasi. Misalnya untuk informasi obat-obatan keras yang harus menggunakan resep hanya diperuntukkan bagi kalangan dokter saja dan masyarakat tidak bisa mengaksesnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar